Senyawa Kuasai Panggung Gedung Kesenian Jakarta di Konser Tanah + Air

Siluet Raksasa SENYAWA, Kuasai Panggung Gedung Kesenian Jakarta di KONSER TANAH+AIR.

Menyaksikan pertunjukkan bebunyian dari duo SENYAWA bukan hal baru bagi saya. Sejak terbentuk sekitar tahun 2010, saya sudah beberapa kali menonton langsung aksi dualistas Rully Shabara & Wukir Suryadi dengan set yang sederhana saat tampil di acara-acara musik kolektif di Indonesia. Namun, dipertunjukkan Kamis malam, 22 Desember 2016, menjadi satu pengalaman berbeda bagi saya dan beberapa penonton konser tunggal SENYAWA, KONSER TANAH+AIR di Gedung Kesenian Jakarta yang dipromotori secara mandiri oleh The Volcanic Winds Project ( sebuah organisasi seni lintas-disiplin yang diinisiasi oleh manajer SENYAWA, Kristi Monfries ) dan didukung oleh G Production.

Hal yang membuat saya penasaran dari Konser TANAH+AIR ini adalah bagaimana mereka (tim produksi Konser TANAH+AIR) mensiasati panggung yang sangat lebar hanya untuk menampilkan dua orang? Jujur saya cukup familiar dengan beberapa bebunyian dari SENYAWA, namun dalam gelaran Konser TANAH+AIR, bukan hanya menonton aksi eksperimental bebunyian yang memekakkan telinga dari olah vokal Rully dan permainan instrumen dawai modifikasi Wukir, melainkan juga tantangan bagaimana Konser TANAH+AIR SENYAWA dikemas agar penonton terus memberikan ‘energinya’ untuk setia menikmati pertunjukkan SENYAWA hingga usai.

Tata artistik sederhana yang menampilkan bentangan kain putih sebagai layar dan disorot lampu dari belakang, membentuk bayangan raksasa dari sosok Rully dan Wukir. Konsep yang diadaptasi dari pementasaan wayang kulit ini ternyata efektif sekali untuk menguasai panggung yang besar. Apalagi kecerdikan dari seorang penata lampu yang memainkan lampunya, semakin membius penonton menikmati tata visual di panggung sambil mencerna bebunyian avant-garde SENYAWA.

Beberapa jam sebelum konser dimulai, saya sempat melihat status Facebook Adi Adriandi yang menjadi bagian tim produksi Konser TANAH+AIR, menyarankan penonton untuk memakai earplug agar bebunyian avant-garde SENYAWA dapat teredam. Tapi sepertinya tidak perlu memakai earplug seperti yang disarankan Adi Adriandi untuk mencerna bebunyian berisik SENYAWA dari bangku penonton karena selama kurang lebih 2 jam mereka tampil, suara bebunyian olahan eksperimental Rully dan Wukir tidak terlalu ‘tajam’ di telinga. Mungkin karena pengaruh penonton yang telah memenuhi ruangan sehingga bebunyian berisik itu dapat teredam.

Selama dua jam itu juga, sang arsitek instrumen Wukir juga memainkan beberapa instrumennya selain BambuWukir yaitu Suthil sebuah spatula yang dipermak dengan dawai/senar, dan Garu sebuah alat bajak sawah tradisional yang juga dimodifikasi dengan menambahkan senar. Pada instrumen Garu, ini adalah kali pertama Wukir memboyongnya keluar dari kandang, khusus untuk pentas konser tunggal SENYAWA, Konser TANAH+AIR di Gedung Kesenian Jakarta.

Di akhir pementasan, SENYAWA yang tampil total dalam konser tunggal perdananya mendapatkan tepuk tangan berdiri dari para hadirin dan mempersilahkan para hadirin untuk lebih dekat mengenal beberapa instrumen yang digunakan SENYAWA di atas panggung.


SENYAWA, dalam beberapa tahun kebelakang telah  tampil sebagai main act di berbagai festival musik Australia, Eropa, Amerika, Jepang dan berbagi panggung dengan beberapa musisi besar dunia seperti: Swans, Death Grips, Damo Suzuki, Keiji Haino, Melt Banana. Bahkan di tahun 2016 ini, SENYAWA diundang oleh Justin Vernon “Bon Iver” & Aaron Desner “The National” yang menjadi kurator pada festival musik Eaux Claires. Beberapa Media luar pun beberapa kali telah mengulas SENYAWA dengan respon yang positif, namun sayangnya sebelum mereka menggelar Konser TANAH+AIR di Indonesia, sosok sepak terjang SENYAWA yang ‘menginvasi’ belahan dunia barat kurang tersorot di Tanah Air.


Teks: Haviz Maulana
Foto: Agung Hartamurti