Neon Lights Festival 2015 Singapore, Festival Musik Rasa Woodstock

Walau baru pertama kali diadakan, Neon Lights, festival musik yang mempersembahkan panggung musik multi genre di Singapura 28-29 November 2015 lalu, sukses membuat para penggemar musik hanyut menikmati hentakan serta alunan berbagai jenis musik mulai dari progressive rock, elektronik, deep house, neo- psychedelic, indie pop, post rock, folk sampai jazz selama dua hari penuh. Tak kalah dengan festival musik berskala besar seperti Laneway Festival yang juga diadakan di Singapura selama 8 tahun terakhir, pertunjukkan pertama dari Neon Lights patut diberikan tepuk tangan meriah karena dapat terekam dan melekat di sudut pikiran kita sampai suatu hari nanti.

Hari Pertama

The Pains Of Being Pure At Heart live at Neon Lights Festival 2015, Singapore (Foto oleh Haviz Maulana)

The Pains Of Being Pure At Heart

Penampilan The Pains of Being Pure at Heart selama 1 jam, membawakan lebih dari 10 lagu menunjukkan kekompakkan mereka setelah mengeluarkan lebih dari lima album. Penampilan mereka ditutup dengan dua lagu terakhir ‘Belong’ dan juga ‘Laid’. ‘Laid’ sendiri merupakan lagu asli dari band James yang punya nama besar di sejarah musik brit pop asal UK.

Nouvelle Vague live at Neon Lights Festival 2015, Singapore (Foto oleh Haviz Maulana)

Nouvelle Vague

Waktu mulai terasa semakin sore dan matahari semakin menghilang berganti malam. Lampu-lampu dari panggung semakin menyihir siapapun yang melihat ke arah sana. Setelah penampilan Nouvelle Vague dengan gaya khas “Frenchnness”-nya berpadu aransemen gaya bossa nova 60-an, acara berlanjut dengan Sun Kill Moon, band indie folk asal San Fransisco, California.

Daughter live at Neon Lights Festival 2015, Singapore

Daughter

Setelah Sun Kill Moon, penampilan berikutnya diisi dengan Daughter yang menunjukkan kualitas vokal Elena Tonra serta seluruh personil band yang mengiringinya dengan harmonis, sejernih hasil rekaman mereka. Youth tentu menjadi lagu yang ditunggu-tunggu, alunannya mengantarkan suasana festival larut dalam suatu kedalaman, diciptakan oleh perpaduan lembutnya vokal Elena dengan liriknya yang mampu menghujam ruang jiwa.

Mogwai live at Neon Lights Festival 2015, Singapore (Foto oleh Haviz Maulana)

Mogwai

Hari pertama saya di Neon Lights Festival ditutup dengan menyaksikan penampilan dari Mogwai, band post rock asal Scotland, yang berhasil membuat saya hanyut tak terkira dalam setiap beatnya. Belum lagi perpaduan distorsi dan efek dimix dengan bass line melodik, membuat Mogwai didominasi oleh permainan instrumen yang eksperimental. Karena penampilan Mogwai cukup malam, saya sempat menontonnya sambil tiduran di kain yang sengaja saya bawa sebagai alas. Tapi ternyata tak berapa kemudian, lagu-lagu Mogwai membuat saya dan siapapun yang berada disana diinjeksi oleh semangat, hingga tanpa saya sadari saya pun tak henti bergerak mengikuti intensnya suasana dan energi yang diciptakan Mogwai dari atas panggung. Rasanya seperti ada endorfin yang disuntikkan ke nadi saya, hingga perjalanan pulang yang harus berjalan kaki cukup jauh jadi tak terasa.

Hari Kedua

Mocca live at Neon Lights Festival 2015, Singapore (Foto oleh Haviz Maulana)

Mocca

Datang dihari kedua membuat saya berkesempatan melihat suguhan spektakuler dari penampilan deretan musisi kaliber kelas dunia lainnya. Serunya, Mocca band asal Tanah Air juga diundang dalam festival ini untuk tampil bersama mereka. Terlihat fans Mocca yang berasal dari manca negara ikut bernyanyi mengikuti lirik yang dinyanyikan Arina sang vokalis. Satu hal yang saya suka ketika melihat penampilan Mocca adalah merasakan spirit child-like Arina yang menjadi nafas dari setiap lagu yang dinyanyikannya, tentunya karena dipadukan dengan permainan gitar Riko, serta bass line yang dimainkan Toma, diiringi beat sang drummer, Indra.

Mercury Rev live at Neon Lights Festival 2015, Singapore (Foto oleh Haviz Maulana)

Mercury Rev

Mercury Rev yang tampil setelah Mocca memanaskan sore terakhir Neon Lights dengan kocokan gitar penuh semangat, mampu mengajak penonton untuk bangkit dan menyatu dalam semangat psychedelic rock yang diusung band ini sejak terbentuk di tahun 1980. Band asal Amerika ini, seringkali dibandingan dengan Flaming Lips. Ternyata Jonathan Donahue, sebelum menjadi vokalis Mercury Rev sempat menjadi gitaris dalam dua album Flaming Lips.

Damien Rice live at Neon Lights Festival 2015, Singapore (Foto oleh Haviz Maulana)

Damien Rice

Malam yang merayap perlahan terasa menjadi begitu damai dengan penampilan solo Damien Rice yang diiringi petikan gitarnya yang jernih. Kebanyakan liriknya terasa begitu menghipnotis dan khidmat, rasanya seperti memasuki lorong yang mengantarkan kita ke dalam isi hati Damien yang menciptakan sebagian besar lagu-lagunya. Saat ia membawakan ‘Blower’s Daughter’ dan ‘Hypnosis’, petikan gitarnya seakan-akan mengiringi gerakan awan berarak-arak yang menyelimuti malam itu. Aksi Damien di lagu terakhirnya ‘Cheers’, juga mampu membawa perasaan seorang ke tingkat melow akut, karena didukung akting Damien yang bisa dibilang menghanyutkan. Penampilan aksi panggungnya juga didukung oleh sepasang kekasih yang dipilihnya secara acak dari penonton, mengisahkan seorang pria yang harus merelakan sang pujaan hati yang telah memilki tambatan hati lainnya.

Ride live at Neon Lights Festival 2015, Singapore (Foto oleh Haviz Maulana)

Ride

Memasuki penghujung acara, hati saya berdebar keras melihat tulisan RIDE pada latar panggung utama Neon Lights , penantian 10 tahun lebih nih pikir saya dalam hati, akhirnya bisa juga nonton live-nya. Ternyata checksound-nya memakan waktu cukup lama, membuat saya bisa meluruskan kaki sambil rebahan dulu di rerumputan taman Fort Canning yang bisa dibilang hampir sebesar Kebun Raya Bogor. Akhirnya, ‘Leave Them All Behind‘ yang dibawakan sebagai lagu pembuka membangkitkan energi setiap sudut taman Fort Canning. Langsung saja saya merapat ke panggung dan melihat penampilan mereka dari jarak yang bisa dibilang sangat dekat.

Penampilan mereka ini dikabarkan adalah tour terakhir dari reuni RIDE, jadi rasanya seperti menjadi bagian penting dari kisah perjalanan bermusik RIDE saat menyaksikan mereka. Satu hal yang juga menarik adalah merasakan emosi mereka secara langsung, hal ini membuat saya merasakan perbedaan emosi yang lumayan kontras ketika mendengarkan Vapour Trail dihasil rekaman album mereka yang berjudul Nowhere. Sepertinya membawakan lagu yang sama selama lebih dari 10 dekade membuat sebuah kejenuhan bisa termanifestasi, walaupun permainan mereka bisa dibilang bagus dan sangat profesional, tetap saja bagi saya ada sesuatu yang kurang secara emosi.

Tapi walaupun begitu, menyaksikan deretan lagu yang dinyanyikan langsung oleh RIDE dan merasakan hentakan musik yang menggoyangkan setengah isi Fort Canning malam itu sungguh tak bisa terlupakan, terutama saat mendengar Dreams Burn Down, Taste, serta Drive Blind yang dibawakan mereka. Para reverb junkie pastinya akan mengakui kemampuan mereka menghajar panggung saat membawakan lagu Drive Blind yang diekspresikan melalui distorsi cukup panjang lalu dihentak dengan lengkingan gitar yang dimainkan Mark Gardener, berlanjut ke lagu berikutnya sekaligus sebagai penutup konser mereka dengan lagu ‘Chelsea Girl’.

Secara keseluruhan, dengan tak hanya terpusat di satu arena, rasanya tak ada pembatas antara band papan atas dengan band indie di festival Neon Lights, karena mereka tampil dan memiliki kualitas yang juga tak kalah baik. Belum lagi massa yang hadir dari masing-masing band, baik lokal maupun mancanegara berbaur menikmati musik bersama, membuat seluruh pertunjukkan yang diselenggarakan Neon Lights, menjadi sebuah bukti bahwa musik adalah suatu bahasa universal yang menyatukan manusia dalam kedamaian.

____________________________
Ditulis oleh: Achsa Zenada
Foto oleh: Haviz Maulana